Pop Mart International Group, perusahaan yang terkenal memproduksi dan menjual Labubus, mengalami kerugian pada sahamnya pada 7 November setelah insiden siaran langsung.
Menurut laporan media, penurunan saham terjadi setelah seorang karyawan Pop Mart tertangkap kamera sedang memegang 'blindbox' yang dibuat oleh perusahaan yang menunjukkan bahwa harganya terlalu mahal selama sesi streaming langsung pada tanggal 6 November.
“Perusahaan sedang menyelidiki situasinya,” kata juru bicara Pop Mart kepada Bloomberg News.
Tetap up to date dengan berita terbaru. Ikuti KT di Saluran WhatsApp.
Boneka-boneka viral dari pembuat mainan tersebut, yang dikenal karena senyumannya yang menakutkan dan estetika yang “imut-menyeramkan”, membuat pembeli di seluruh dunia harus mengantri panjang selama berjam-jam untuk mendapatkan Labubus sebelum terjual habis.
Blindbox, seperti namanya, adalah tentang kejutan. Saat Anda membeli boneka Labubu, di kotaknya tidak disebutkan desain atau warna apa yang akan Anda dapatkan. Anda tidak memilih Labubu; Labubu memilihmu.
Labubus dapat terjual dengan harga lebih dari Dh1.000 untuk edisi terbatas, dan Labubus telah memicu gelombang merchandise yang “terinspirasi”, mulai dari kue hingga gantungan kunci. Setelah boneka-boneka tersebut viral di media sosial, para pembeli pun berbondong-bondong mendatangi destinasi Labubu terdekat.
Kegemarannya tidak berhenti pada pembelian boneka tersebut, namun juga tentang unboxing, mendapatkan seluruh koleksi, dan terkadang bahkan mendandani Labubu. Awal tahun ini, seorang TikToker menjadi viral setelah mengklaim memiliki satu-satunya labubu emas 24 karat di dunia.
Boneka mirip monster ini diciptakan pada tahun 2015 oleh ilustrator kelahiran Hong Kong, Belanda, Kasing Lung, yang mengambil inspirasi dari cerita rakyat untuk membuat seri buku bergambar dongeng Nordik, berjudul Para Monster.